slot depo 10k slot depo 10k
Ekonomi

Kemenperin Terapkan Nilai Tambah untuk Mengukur Kinerja Sektor Manufaktur di Indonesia

Jakarta – Dalam upaya memperkuat sektor industri manufaktur nasional, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya penciptaan nilai tambah. Dalam konteks ini, Kementerian Perindustrian mengenalkan konsep Manufacturing Value Added (MVA) sebagai alat ukur utama untuk menilai kinerja sektor manufaktur di Indonesia. Penerapan MVA diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kontribusi industri terhadap perekonomian nasional.

Pentingnya Nilai Tambah dalam Sektor Manufaktur

Dalam pertemuan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) 2027 dengan Komisi VII DPR RI, Agus menegaskan bahwa penciptaan dan penguatan nilai tambah menjadi salah satu prioritas utama Kementerian Perindustrian. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus membina dan mengembangkan industri manufaktur agar lebih kompetitif di tingkat global.

“Kami di Kemenperin selalu berfokus pada penciptaan nilai tambah dalam industri manufaktur. Dengan demikian, MVA menjadi metode paling penting untuk mengukur kinerja sektor ini di Indonesia,” ungkap Agus saat sesi diskusi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Data dan Pencapaian Nilai Tambah Manufaktur

Merujuk pada data yang dipublikasikan oleh World Bank pada tahun 2025, nilai tambah sektor manufaktur Indonesia tercatat mencapai 275,61 miliar dolar AS. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan 2024 yang hanya mencapai 265 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini menjadi indikator positif bagi kinerja industri manufaktur nasional.

Agus menyatakan, “Kinerja positif industri manufaktur tercermin melalui nilai tambah yang dirilis oleh World Bank. Pada tahun 2025, Indonesia berhasil mencatat angka 275,61 miliar dolar AS dalam MVA.”

Peringkat Global dan Posisi ASEAN

Capaian nilai tambah tersebut menempatkan Indonesia di urutan ke-12 dunia pada tahun 2025, meningkat dari posisi ke-13 pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam pengembangan industri manufaktur di Indonesia.

Di tingkat ASEAN, Indonesia juga menempati posisi teratas dalam penciptaan nilai tambah manufaktur. Agus menambahkan bahwa nilai tambah manufaktur Thailand, yang berada di posisi kedua, hanya sekitar setengah dari capaian Indonesia, menandakan dominasi Indonesia dalam kawasan ini.

Tumbuh Positif di Sektor Pengolahan Nonmigas

Selain nilai tambah, sektor industri pengolahan nonmigas (IPNM) juga menunjukkan pertumbuhan yang positif pada triwulan II tahun 2026. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), IPNM tumbuh sebesar 5,32 persen secara tahunan, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen.

Kinerja positif industri pengolahan nonmigas ini juga didorong oleh kontribusi besar dari sektor ekspor. Agus mencatat bahwa ekspor dari IPNM berkontribusi hampir 82 persen terhadap total ekspor nasional, menegaskan pentingnya sektor ini dalam perekonomian Indonesia.

Kapasitas Produksi dan Utilitas IPNM

Dari perspektif kapasitas produksi, utilitas IPNM masih berada pada angka 64,8 persen. Agus mengungkapkan bahwa tingkat utilitas ini perlu ditingkatkan hingga mencapai minimal 70 persen atau lebih untuk mengoptimalkan potensi produksi.

“Saat ini, utilitas IPNM masih pada angka 64,8 persen. Kita harus berupaya untuk meningkatkan angka tersebut hingga mencapai minimal 70 persen,” tuturnya.

Penguatan Pasar Domestik untuk Optimalisasi Penyerapan Produk

Agus juga menekankan pentingnya penguatan pasar domestik sebagai langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan produk manufaktur nasional. Saat ini, sekitar 78,4 persen dari total output produk manufaktur berhasil diserap di pasar dalam negeri. Hal ini mencerminkan potensi besar pasar domestik bagi industri manufaktur.

Dalam konteks ini, upaya untuk meningkatkan daya saing produk domestik menjadi sangat penting. Dengan mengoptimalkan penyerapan produk di pasar lokal, diharapkan industri manufaktur dapat bertahan dan berkembang meskipun dalam kondisi pasar global yang berfluktuasi.

Strategi untuk Meningkatkan Nilai Tambah di Sektor Manufaktur

Untuk meningkatkan nilai tambah dalam sektor manufaktur, Kementerian Perindustrian telah merancang beberapa strategi, antara lain:

  • Meningkatkan investasi di sektor manufaktur, baik dari dalam maupun luar negeri.
  • Memperkuat riset dan pengembangan untuk menciptakan produk inovatif.
  • Mendorong kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi untuk pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
  • Meningkatkan akses terhadap teknologi modern yang dapat meningkatkan efisiensi produksi.
  • Memperluas akses pasar untuk produk manufaktur, baik di pasar domestik maupun internasional.

Dengan penerapan strategi-strategi tersebut, diharapkan sektor manufaktur Indonesia dapat terus tumbuh dan bersaing secara global, serta memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

Masa Depan Sektor Manufaktur di Indonesia

Dengan fokus pada nilai tambah dan penguatan industri, masa depan sektor manufaktur di Indonesia tampak cerah. Upaya untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk lokal akan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan dapat bersinergi untuk mencapai tujuan ini.

Melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan, diharapkan sektor manufaktur Indonesia dapat berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Kemenperin berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan sektor ini, agar Indonesia dapat menjadi kekuatan manufaktur yang diperhitungkan di kancah global.

➡️ Baca Juga: Panduan Esensial: Persiapan Mudik Menggunakan Mobil atau Motor, Kunci Optimalisasi SEO untuk Peningkatan Peringkat Google

➡️ Baca Juga: Harga BBM Pertamina Terbaru: Jenis-Jenis yang Mengalami Kenaikan Terupdate

Related Articles

Back to top button