kpkgg
Pendidikan

Guru Rohani di Pelosok Lombok: Perjalanan 1,5 Jam Naik Kapal Menuju Sekolah

Perjalanan seorang pendidik di daerah terpencil sering kali diwarnai dengan tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan kurangnya fasilitas pendidikan, tetapi juga dengan akses yang sulit menuju tempat mengajar. Rohani, seorang guru di SMP Satu Atap 2 Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mengalami hal ini secara langsung. Setiap hari, ia menempuh perjalanan yang memakan waktu 1,5 jam dengan menggunakan kapal demi memenuhi panggilan tugasnya sebagai pendidik. Melalui program Perahu Sekolah Sinar Waecicu, yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan Samudera Indonesia, akses transportasi bagi siswa dan guru di wilayah kepulauan ini semakin terbuka. Mari kita telusuri lebih dalam perjalanan dan tantangan yang dihadapi Rohani dalam menjalankan misinya mendidik anak-anak di Pulau Gili Gede.

Perjalanan Menuju Sekolah: Dari Mataram ke Pulau Gili Gede

Pagi hari, sekitar pukul 06.10 WITA, Rohani memulai perjalanannya dari Mataram. Dengan menaiki sepeda motor, ia menempuh lebih dari satu jam perjalanan darat. Waktu tempuh ini bisa bertambah menjadi satu setengah jam jika cuaca tidak bersahabat. “Saya berangkat jam 6.10 WITA, naik motor dari Mataram,” ujarnya. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terletak pada jarak, tetapi juga pada kondisi cuaca yang sering kali berubah-ubah. Hal ini membuat perjalanan menjadi lebih melelahkan dan penuh ketidakpastian.

Di samping itu, perjalanan ini juga menjadi gambaran nyata betapa sulitnya akses pendidikan di daerah pelosok. Untuk mencapai sekolah, Rohani dan rekan-rekannya harus menyeberangi lautan, yang sering kali dipenuhi tantangan, seperti ombak besar dan angin kencang. Meski demikian, semangat untuk mengajar dan berbagi ilmu kepada siswa tidak pernah padam dalam diri mereka.

Tantangan yang Dihadapi di Wilayah Pelosok

Pengalaman mengajar di Pulau Gili Gede bagi Rohani bukan hanya sekadar rutinitas harian, tetapi juga sarat dengan suka dan duka. Di satu sisi, ada kepuasan tersendiri ketika dapat membantu siswa yang membutuhkan pendidikan. Namun di sisi lain, ada banyak kendala yang harus dihadapi, mulai dari perjalanan yang panjang, cuaca yang tidak menentu, hingga biaya transportasi yang harus dikeluarkan setiap hari.

  • Kendalanya meliputi perjalanan yang panjang dan melelahkan.
  • Kondisi cuaca yang sering berubah dapat mempengaruhi perjalanan.
  • Biaya transportasi yang tinggi menjadi beban tambahan.
  • Keberadaan ombak besar dan angin kencang yang sering kali mengganggu perjalanan.
  • Kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap kekurangan tenaga pendidik di wilayah tersebut.

Rohani mengungkapkan, “Sukanya sih untuk mencari pengalaman dan berbagi ilmu kita. Dukanya lebih ke cuaca yang sering berubah-ubah dan kendala-kendala perjalanan yang jauh.” Meski demikian, ia berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan jumlah guru di daerahnya.

Perahu Sekolah Sinar Waecicu: Solusi Transportasi yang Mengubah Akses Pendidikan

Program Perahu Sekolah Sinar Waecicu menjadi sebuah solusi yang sangat berarti bagi Rohani dan rekan-rekannya. Program ini dirancang untuk membantu meringankan biaya perjalanan yang sebelumnya mereka tanggung sendiri. “Syukurnya kami mendapatkan bantuan dari Kapal Samudera Peduli yang sangat membantu kami untuk mengurangi biaya setiap hari,” jelas Rohani. Sebelumnya, biaya angkutan per bulan bisa mencapai lebih dari Rp400 ribu, namun dengan bantuan ini, mereka bisa memangkas anggaran hingga Rp500 ribu lebih.

Keberadaan perahu sekolah ini tidak hanya memudahkan akses bagi guru, tetapi juga siswa yang harus menyeberang untuk mencapai sekolah. Dengan adanya transportasi yang lebih terjangkau dan aman, harapan untuk pendidikan yang lebih baik di wilayah tersebut semakin terbuka lebar.

Dampak Perahu Sekolah Terhadap Keputusan Guru

Walau perahu sekolah memberikan banyak kemudahan, tantangan perjalanan tetap mempengaruhi keputusan sejumlah guru untuk bertahan di tempat mengajar. Rohani mencatat ada rekan guru yang memilih untuk mengajukan mutasi meskipun belum genap setahun bertugas. “Banyak yang mengajukan mutasi. Terutama waktu kami datang bertiga, itu baru kurang lebih satu tahun dia, sudah mengajukan,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kehadiran perahu sekolah membantu, beban perjalanan yang berat masih menjadi pertimbangan penting bagi para pendidik.

Motivasi di Balik Pengabdian: Mengapa Rohani Bertahan Mengajar

Di balik segala tantangan yang ada, Rohani memiliki motivasi kuat untuk tetap bertahan mengajar di Pulau Gili Gede. Baginya, anak-anak di daerah tersebut sangat membutuhkan kehadiran guru. “Pertama, karena kita lihat keadaan anak-anak yang memang sangat kekurangan guru di sana,” ujarnya. Ia percaya bahwa keterbatasan akses tidak seharusnya menghalangi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Dia juga menambahkan bahwa dibandingkan dengan rekan-rekannya yang mengajar di tempat lain, mereka masih memiliki akses yang lebih baik. “Kalau kendala kita kan hanya untuk menyeberang, ombak yang besar, cuaca yang sering berubah-ubah itu saja,” jelasnya. Dengan semangat itu, Rohani dan rekan-rekannya terus berjuang demi masa depan anak-anak di Pulau Gili Gede.

Penghasilan dan Tantangan Ekonomi

Rohani dan rekan-rekannya yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menghadapi tantangan finansial setiap bulannya. “Pendapatan kami rata-rata Rp3,1 juta, tetapi setelah dikurangi berbagai biaya, termasuk ongkos perjalanan, kadang tersisa sangat sedikit,” ungkapnya. Dengan tunjangan sertifikasi, penghasilan mereka bisa sedikit meningkat, namun tetap saja harus diimbangi dengan berbagai kebutuhan hidup.

Harapan untuk Masa Depan Siswa di Pulau Gili Gede

Meski banyak rintangan yang dihadapi, Rohani tetap optimis tentang masa depan pendidikan di Pulau Gili Gede. Ia berharap anak-anak di wilayah tersebut tidak patah semangat dalam menuntut ilmu. “Marilah belajar yang lebih rajin untuk menggapai cita-cita kalian, karena ke depannya saingannya akan semakin ketat,” pesannya kepada para siswa.

Rohani ingin agar perjuangan para guru dalam menjangkau sekolah dapat menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus belajar dan mengembangkan diri. “Semoga masa depan kalian lebih cerah dari kami yang di sini. Jadikan kami sebagai guru ini adalah motivasi kalian untuk lebih baik lagi dari kami,” tutupnya dengan penuh harapan.

Perahu Sekolah Samudera Peduli: Dukungan untuk Pendidikan di Wilayah Terpencil

Perjuangan Rohani dan para guru di Pulau Gili Gede mencerminkan pentingnya akses transportasi untuk mendukung pendidikan di daerah terpencil. Melalui program Perahu Sekolah, Samudera Indonesia berkomitmen untuk membantu anak-anak dan tenaga pendidik mengatasi kendala perjalanan menuju sekolah. Program ini telah beroperasi sejak 2017 dan menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa Barat hingga Nusa Tenggara Barat.

Hadirnya armada perahu sekolah yang beroperasi di berbagai daerah diharapkan dapat meringankan beban perjalanan bagi masyarakat. Setiap peluncuran armada dilakukan dengan perencanaan matang, termasuk survei lokasi dan kesiapan operasional, agar dapat berfungsi optimal sesuai kebutuhan masyarakat.

Peran Masyarakat dalam Program Perahu Sekolah

Program ini tidak hanya menawarkan sarana transportasi, tetapi juga memberdayakan masyarakat setempat. Warga lokal dilibatkan sebagai kru perahu dan mendapatkan pelatihan safety dasar sebelum bertugas. “Kami berdayakan juga masyarakat lokal untuk menjadi kru, kita training-kan basic safety training,” jelas CSR Manager Samudera Peduli. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa program ini diterima dengan baik oleh masyarakat setempat dan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan.

Kehadiran Perahu Sekolah Sinar Waecicu di Pulau Gili Gede diharapkan dapat membantu meringankan beban perjalanan para guru sekaligus mempermudah akses siswa ke sekolah. Dalam menghadapi tantangan geografis yang membatasi akses pendidikan, dukungan transportasi menjadi salah satu upaya penting untuk memastikan bahwa proses belajar-mengajar tetap berjalan dan anak-anak di wilayah pelosok memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

➡️ Baca Juga: Pemkab Jembrana Luncurkan Bus Gratis untuk Mendukung Upacara Keagamaan

➡️ Baca Juga: Wyndham Casablanca Jakarta Kolaborasi dengan NHI Bandung untuk Ruang Praktik Berstandar Bintang Lima

Related Articles

Back to top button