Netanyahu Menyatakan Film NAZA Sebagai Hasutan, Sebut Dokumenter Tentang Gaza Kontroversial

Film dokumenter “NAZA” karya pasangan sineas Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, telah menjadi sorotan global setelah meraih penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Venesia 2026. Namun, film ini juga menuai kritik tajam dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyebutnya sebagai bentuk hasutan. Kontroversi muncul ketika dokumenter ini mengeksplorasi wawancara dengan 24 perwira intelijen dan prajurit militer Israel yang berbicara secara anonim mengenai operasi militer di Gaza. Di balik penghargaan yang diraihnya, film ini justru dianggap oleh Netanyahu sebagai upaya untuk mendiskreditkan militer Israel.
Pemicu Kontroversi di Kalangan Pemimpin Israel
Perdana Menteri Netanyahu tidak segan-segan mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap “NAZA”. Ia berpendapat bahwa film ini merupakan bagian dari gelombang hasutan yang lebih luas terhadap masyarakat Yahudi. Dalam pernyataannya, Netanyahu menyatakan kekhawatirannya bahwa film tersebut, yang menggambarkan Angkatan Pertahanan Israel (IDF) sebagai penjahat perang, akan memperburuk sentimen antisemitisme di seluruh dunia. Ia menegaskan, “Ketika kritik datang dari kalangan kita sendiri, hal itu tidak dapat diterima.”
Pernyataan Netanyahu dan Dampaknya
Netanyahu melanjutkan dengan menekankan bahwa penghargaan yang diterima film ini menggambarkan bagaimana kritik terhadap Israel mendapat perhatian internasional yang signifikan. “Dua sutradara Israel yang menggambarkan IDF sebagai penjahat perang justru mendapat tepuk tangan di festival Venesia,” tambahnya. Pernyataan ini juga mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam di kalangan pemimpin Israel terhadap narasi yang dianggap merugikan negara mereka.
Kecaman dari Pihak Militer Israel
Tidak hanya Netanyahu yang mengkritik “NAZA”; Kepala Militer Israel, Eyal Zamir, juga melontarkan penolakan keras terhadap film ini. Ia menyebut film tersebut sebagai serangan langsung terhadap Israel dan menegaskan bahwa film ini tidak bisa dianggap sebagai kritik yang sah terhadap IDF. Zamir mempertanyakan kredibilitas informasi yang disampaikan oleh para pembuat film dan menegaskan bahwa film ini didasarkan pada fitnah dan distorsi fakta.
- Film dianggap tidak memberikan kritik konstruktif terhadap IDF.
- Tuduhan yang dilontarkan dianggap sebagai “blood libel” yang tidak berdasar.
- Militer Israel memandang film ini sebagai serangan terhadap reputasi mereka.
- Keberadaan narasumber anonim dipertanyakan oleh pihak militer.
- Zamir menginstruksikan untuk meneliti kemungkinan langkah hukum terhadap film tersebut.
Langkah Hukum yang Mungkin Diambil
Sebagai respons terhadap kritik yang meluas, militer Israel telah mengarahkan Advokat Jenderal Militer untuk meneliti dan mempertimbangkan langkah hukum terkait film “NAZA” dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Ini menunjukkan betapa seriusnya tanggapan dari pemerintah dan militer terhadap dokumenter ini, yang dianggap merusak citra mereka di mata publik internasional.
Pertahanan dari Sineas “NAZA”
Di tengah badai kritik, Yuval Abraham tetap teguh pada keputusan untuk melanjutkan produksi “NAZA”. Ia mengakui bahwa membuat film ini adalah sebuah risiko, terutama mengingat tema sensitif yang diangkat mengenai operasi militer Israel di Gaza. Abraham menegaskan bahwa keberanian untuk mengangkat isu-isu tersebut adalah bagian dari proses kreatif dan penting untuk membuka dialog tentang realitas yang terjadi di lapangan.
Motivasi di Balik Pembuatan Film
Abraham menjelaskan bahwa mereka merasa perlu untuk menyuarakan kondisi yang dihadapi oleh masyarakat Palestina yang terdampak oleh konflik. Ia menggunakan perumpamaan yang kuat untuk menggambarkan situasi yang dihadapi oleh warga Palestina, “Bagi banyak warga Palestina, yang mendatangi rumah mereka bukanlah massa sayap kanan, melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS.”
Respon Penonton di Festival Film Venesia
Sebelum menuai berbagai kecaman di Israel, “NAZA” telah mencuri perhatian di Festival Film Venesia 2026. Pemutaran perdana film ini dalam kompetisi utama festival tersebut pada tanggal 10 September 2026, disambut dengan antusiasme luar biasa dari para penonton. Setelah film ditayangkan, penonton memberikan standing ovation selama sekitar 24,5 menit, yang mencatatkan rekor baru untuk durasi tepuk tangan terlama di festival tersebut.
Suasana Emosional di Dalam Bioskop
Suasana di dalam gedung bioskop saat pemutaran berlangsung sangat emosional. Banyak penonton terlihat mengibarkan bendera Palestina sebagai bentuk dukungan terhadap film ini. Tepuk tangan dan sorakan yang menggema menandakan bahwa film “NAZA” berhasil menyentuh hati banyak orang dan mengundang diskusi mendalam tentang isu-isu yang diangkat.
Implikasi dari Kontroversi “NAZA”
Kontroversi yang ditimbulkan oleh “NAZA” menunjukkan bagaimana media dan seni dapat berfungsi sebagai alat untuk mengungkapkan perspektif yang berbeda dalam konteks konflik yang kompleks. Film ini tidak hanya menciptakan perdebatan di dalam Israel, tetapi juga menarik perhatian dunia terhadap isu-isu yang sering kali terabaikan dalam narasi mainstream.
Pentingnya Diskusi Terbuka
Walaupun dikecam oleh pemerintah dan militer Israel, Yuval Abraham berpendapat bahwa “NAZA” tetap penting untuk disaksikan, termasuk oleh masyarakat Israel sendiri. Ia percaya bahwa film ini dapat membuka ruang diskusi untuk isu-isu yang sulit dibicarakan secara terbuka, dan memberikan sudut pandang yang mungkin belum pernah dipertimbangkan sebelumnya.
Kesimpulan yang Menggugah
Film “NAZA” bukan hanya sekadar dokumenter; ia merupakan pernyataan berani yang berusaha menantang narasi dominan dan mengajak penonton untuk mempertimbangkan berbagai perspektif dalam konflik yang berlangsung di Gaza. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, keberanian untuk berbicara dan mendengarkan menjadi semakin penting. Film ini akan terus menjadi topik perdebatan, baik di Israel maupun di panggung internasional, menciptakan ruang untuk refleksi dan dialog yang lebih mendalam.
➡️ Baca Juga: Tingkatkan Mental Tunggal Putri untuk Mencapai Prestasi Optimal dalam Kompetisi
➡️ Baca Juga: Yoghurt atau Es Krim: Mana yang Lebih Menyegarkan dan Sehat untuk Anda?




