kpkgg
Nasional

Lestari Moerdijat: Keluarga dan Negara Berperan Lindungi Anak dari Ekosistem Digital

Di era modern ini, pengaruh ekosistem digital terhadap kesehatan mental anak dan remaja semakin menjadi sorotan. Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, menekankan bahwa lonjakan gangguan kecemasan di kalangan generasi muda bukanlah masalah individual semata, melainkan tantangan yang harus dihadapi secara kolektif oleh masyarakat. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, media sosial dan kecerdasan buatan (AI) telah menciptakan budaya baru yang tidak jarang membuat remaja semakin rentan terhadap tekanan psikologis. Dalam diskusi yang diadakan pada 1 Oktober 2026, Lestari mengungkapkan betapa pentingnya keterlibatan negara dan keluarga dalam melindungi anak-anak dari dampak negatif ekosistem digital.

Ekosistem Digital dan Kesehatan Mental Remaja

Penting untuk menyadari bahwa anak-anak dan remaja saat ini menghabiskan rata-rata 7,5 jam per hari untuk menggunakan perangkat digital. Data menunjukkan bahwa 40% siswa SMP mengakses gawai antara 3 hingga 6 jam setiap harinya. Paparan berlebihan terhadap algoritma dan konten media sosial bisa berakibat serius, tidak hanya mengganggu konsentrasi, tetapi juga memicu kecemasan yang berlebihan. Lestari mencatat, dari 34,9% remaja yang berisiko mengalami masalah mental, hanya 2,6% yang mendapatkan penanganan profesional. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk menciptakan sistem dukungan yang lebih baik.

Pentingnya Regulasi dan Tindakan Bersama

Di tengah tantangan ini, pemerintah telah mengambil langkah-langkah penting dengan menerbitkan berbagai peraturan seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026. Regulasi ini bertujuan untuk membatasi akses anak di bawah 16 tahun pada platform digital yang berisiko tinggi, termasuk media sosial. Meskipun langkah ini dianggap sebagai terobosan, Lestari mengingatkan bahwa regulasi saja tidak cukup. Diperlukan sinergi antara keluarga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan sistem deteksi dini yang efektif.

  • Kecepatan inovasi teknologi harus diimbangi dengan kesiapan penegakan hukum.
  • Literasi digital harus ditingkatkan agar anak-anak dapat menggunakan teknologi dengan bijak.
  • Keluarga harus berperan aktif dalam mendampingi anak dalam menggunakan perangkat digital.
  • Platform digital harus bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan.
  • Kerjasama antara lembaga pemerintah dan swasta sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang aman bagi anak-anak.

Peran Keluarga dalam Menangani Dampak Ekosistem Digital

Salah satu faktor utama yang dapat membantu mengatasi masalah kesehatan mental anak adalah dukungan dari keluarga. Julianto Simanjuntak, Founder Layanan Konseling Keluarga & Karir, mengungkapkan bahwa jumlah klien yang mencari layanan konseling meningkat drastis pascapandemi Covid-19, dari 100 klien per tahun menjadi 5.000 klien. Ini mencerminkan bahwa masyarakat kini lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dan mendambakan dukungan dalam hubungan keluarga. Julianto menekankan bahwa peran orang tua sangat penting dalam memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak mereka.

Menangani Perubahan yang Terjadi di Kalangan Remaja

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, menyatakan bahwa saat ini terjadi pergeseran dalam hal apa yang ditakuti oleh manusia. Data dari WHO menunjukkan bahwa 45% orang lebih takut akan gangguan kesehatan mental dibandingkan dengan risiko terkena kanker. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman dan pendampingan yang tepat bagi remaja yang sedang dalam proses perkembangan. Imran menekankan bahwa tanggung jawab untuk mewujudkan kesehatan jiwa bukan hanya di tangan pemerintah, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan.

Implikasi Neuroscience dalam Penggunaan Teknologi

Pakar Neuroscience dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. dr. Ismail Setyopranoto, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode yang sensitif terhadap lingkungan. Lingkungan digital saat ini menjadi bagian integral dari perkembangan otak remaja. Fenomena seperti Fear of Missing Out (FoMO) dan tekanan untuk mendapatkan validasi di media sosial dapat menyebabkan gangguan tidur dan memengaruhi fungsi otak secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih dalam mengenai dampak teknologi terhadap perkembangan mental remaja sangatlah penting.

Membangun Kesehatan Mental yang Kuat

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dian Sasmita, mengungkapkan bahwa perhatian dari keluarga adalah kunci dalam mendukung kesehatan mental anak. Dian menegaskan bahwa anak-anak yang berhadapan dengan hukum sering kali merupakan anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Penting untuk menciptakan sistem perlindungan anak yang lebih kuat dalam konteks digital, termasuk perbaikan dalam implementasi regulasi yang telah ada.

Menjalin Hubungan yang Sehat di Era Digital

Jurnalis senior Saur Hutabarat mengungkapkan bahwa teknologi, termasuk AI, seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai alat yang membantu manusia. AI dapat berfungsi sebagai co-pilot yang mendampingi kita dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ia juga mengingatkan bahwa hubungan manusia harus lebih dalam dan intim dibandingkan dengan hubungan yang dibangun dengan teknologi atau media sosial. Ketika teknologi mampu berperilaku layaknya manusia, maka kita sebagai manusia juga harus berusaha untuk lebih manusiawi dalam berinteraksi dengan orang lain.

  • Kualitas interaksi manusia harus lebih diutamakan dibandingkan kuantitasnya.
  • Anak-anak harus diperlakukan sebagai teman dalam proses tumbuh kembangnya.
  • Hubungan yang sehat dapat membantu mengurangi dampak negatif ekosistem digital.
  • Orang tua perlu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka.
  • Penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi anak-anak dalam menggunakan teknologi.

Pada akhirnya, untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh generasi muda di era ekosistem digital, diperlukan kerjasama antara keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Membangun sistem yang mendukung kesehatan mental anak harus menjadi prioritas bersama. Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita, di mana mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat, baik secara mental maupun emosional.

➡️ Baca Juga: DPR Sarankan Penggunaan Denda Korporasi Karhutla untuk Pemulihan Lingkungan

➡️ Baca Juga: Arsenal Perlu Memperkuat Strategi untuk Mengatasi Struktur Permainan Leverkusen

Related Articles

Back to top button