Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, baru-baru ini menghadiri Festival Indonesia 2026 yang diadakan di Yeouido Hangang Park, Seoul, Korea Selatan. Kunjungan ini tidak hanya menandai kehadiran Jakarta di panggung internasional, tetapi juga merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Melalui acara ini, diharapkan akan ada peluang baru bagi kedua kota dalam bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, dan perfilman.
Menjalin Kerjasama Budaya yang Kuat
Kedatangan Rano ke Korea Selatan merupakan bagian dari serangkaian kunjungan yang telah direncanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sebagai tanggapan atas undangan dari Pemerintah Kota Seoul. Dalam kesempatan ini, kedua kota menjajaki sejumlah peluang kerjasama, termasuk pertukaran pengalaman dalam pengembangan kota melalui kebudayaan, kreativitas, dan inovasi.
Rano hadir bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, serta istri dan ribuan warga Indonesia yang tengah tinggal dan berkarya di Korea. Dalam suasana akrab, Rano menyapa komunitas Indonesia yang memadati kawasan Yeouido Hangang Park, mengenakan batik lengan pendek dengan nuansa Betawi.
Festival Sebagai Ruang Pertemuan
Di festival tersebut, Jakarta diperkenalkan melalui berbagai pertunjukan seni dan presentasi yang disampaikan secara langsung oleh Rano. Ia menekankan bahwa festival ini lebih dari sekadar perayaan kebudayaan; ini adalah platform untuk menyatukan masyarakat Indonesia dan Korea Selatan.
“Festival Indonesia bukan hanya sebuah perayaan. Ini adalah ruang pertemuan. Melalui seni, kuliner, dan kreativitas, kita bisa saling mengenal lebih baik, berbagi inspirasi, dan memperkuat persahabatan yang sudah terjalin,” ungkapnya.
Memperkuat Hubungan People-to-People
Menurut Rano, hubungan antarmasyarakat atau people-to-people merupakan elemen penting dalam memperkuat kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan. Di balik itu, Indonesia juga memiliki kesempatan untuk menunjukkan identitasnya sebagai bangsa yang menghargai warisan budaya sembari tetap terbuka terhadap inovasi dan kolaborasi.
“Jakarta dan Seoul memiliki banyak potensi untuk berkembang bersama. Kerjasama ini harus diisi dengan langkah-langkah konkret, mulai dari kebudayaan, industri kreatif, perfilman, hingga pengembangan talenta muda,” jelasnya.
Kebudayaan Korea sebagai Inspirasi
Salah satu perhatian utama Rano adalah bagaimana Korea Selatan telah berhasil mengembangkan kebudayaannya secara konsisten hingga mampu menembus pasar global. Film, musik, drama, kuliner, dan fesyen Korea tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan ekonomi dan alat diplomasi yang efektif.
“Kita bisa melihat bagaimana Korea Selatan berhasil mempromosikan kebudayaannya di seluruh dunia. Yang menarik untuk dipelajari adalah bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga strategi di balik kesuksesan tersebut. Bagaimana budaya mendapatkan perhatian, para kreator didorong, dan industri dibangun untuk diperkenalkan kepada dunia,” ujarnya.
Kekayaan Budaya Jakarta
Rano percaya bahwa Jakarta memiliki potensi budaya yang sangat besar. Kota ini, yang telah lama menjadi tempat pertemuan berbagai etnis dan tradisi, memiliki kekayaan yang bisa dijadikan bagian dari identitasnya sebagai kota global.
“Pembangunan Jakarta sebagai kota global tidak berarti kita harus meninggalkan akar budaya kita. Sebaliknya, kekayaan budaya yang ada di Jakarta dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk memperkenalkan kota ini kepada dunia,” tambahnya.
Menghadiri Festival Film Internasional
Setelah menghadiri festival di Seoul, Rano melanjutkan kunjungannya ke Busan untuk menghadiri Busan International Film Festival. Kehadiran Jakarta di forum perfilman internasional ini bertujuan untuk memperkenalkan Jakarta Film Commission kepada jaringan industri film global.
Langkah ini merupakan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperkuat ekosistem perfilman serta meningkatkan posisi Jakarta sebagai salah satu pusat produksi dan pengembangan industri audiovisual. Forum di Busan juga dianggap sebagai kesempatan untuk membangun jejaring dengan sineas, produser, investor, festival, serta pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Harapan untuk Kolaborasi yang Lebih Luas
Rano berharap bahwa kolaborasi antara Jakarta dan Korea Selatan tidak hanya akan membuka peluang bagi kota Jakarta. Ia juga menginginkan agar kerja sama ini memberikan dampak yang lebih luas bagi perkembangan industri perfilman Indonesia.
Dengan pendekatan yang terencana dan kolaboratif, Rano yakin bahwa Jakarta dapat mengambil pelajaran dari Korea Selatan dan menerapkannya untuk mengembangkan kebudayaan lokal. Dengan mengadopsi beberapa elemen budaya Korea, Jakarta tidak hanya akan menguatkan identitasnya sebagai kota global, tetapi juga memperkaya pengalaman masyarakatnya.
- Inisiatif untuk pertukaran budaya antara Jakarta dan Seoul.
- Pengembangan industri kreatif melalui kolaborasi internasional.
- Pentingnya pertumbuhan ekonomi kreatif dalam meningkatkan daya saing kota.
- Peran seni dan budaya dalam memperkuat hubungan antar negara.
- Strategi Korea Selatan dalam mempromosikan kebudayaan secara global.
Dengan langkah-langkah yang tepat, Jakarta memiliki potensi untuk menjadi salah satu kota yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga di kancah internasional. Dengan mengadopsi budaya Korea dan memperkuat identitas lokal, Jakarta dapat menciptakan sinergi yang positif untuk masa depan yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Harga Gabah Mencapai Rp7.600 per Kg, Petani Sumedang Mengalami Keuntungan Signifikan
➡️ Baca Juga: Phapros Raih PROPER Hijau 2025, Tunjukkan Kinerja dan Komitmen pada Keberlanjutan
