Mengungkap Fakta: Alasan ATM dan Kantor Cabang Bank Semakin Tidak Menarik di Era Digital

Indonesia mengalami perubahan drastis dalam lanskap keuangannya, suatu transformasi yang didasari oleh cepatnya adopsi teknologi dan perubahan drastis dalam perilaku konsumen. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat bahwa penurunan jumlah mesin ATM dan penutupan cabang bank bukanlah suatu kebetulan, melainkan suatu konsekuensi alami dari pergeseran pola konsumsi finansial masyarakat yang berorientasi digital. Nailul Huda, Direktur Ekonomi CELIOS, menekankan bagaimana masyarakat pada masa lalu rela berburu ke ATM di tengah malam hanya untuk membeli tiket kereta api saat mudik Lebaran. Namun, sekarang, proses pembayaran semacam itu dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi perbankan seluler, sehingga menghilangkan kebutuhan untuk pergi ke ATM fisik.
Mengapa ATM dan Kantor Cabang Bank Semakin Tidak Menarik
Layanan digital telah memberikan kemudahan dan efisiensi yang signifikan, yang dengan cepat mengurangi ketergantungan masyarakat pada infrastruktur perbankan tradisional. “Dulu, kita harus berlomba ke ATM di tengah malam untuk membayar tiket kereta api Lebaran. Sekarang, hal tersebut sudah tidak relevan lagi dengan hadirnya layanan perbankan online dan aplikasi seluler. Itulah yang menyebabkan penurunan jumlah ATM di Indonesia,” kata Nailul dalam acara Digital Banking dan Economic Outlook 2026 di Amar Bank, Jakarta Selatan.
Prediksi Pertumbuhan Pembayaran Digital
Berdasarkan prediksi CELIOS, tren pembayaran digital akan terus naik dan diperkirakan akan mencapai Rp 4 triliun pada tahun 2026. Selain itu, pinjaman online (pinjol) dan transaksi di bank digital juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin besar terhadap platform digital sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka.
Pertumbuhan Transaksi di Sektor Bank Digital
Meski adanya gejolak dan ketidakpastian ekonomi global, Nailul memperkirakan pertumbuhan transaksi di sektor bank digital mencapai 10%. Perkembangan teknologi yang semakin maju memungkinkan bank digital untuk menawarkan layanan yang lebih personal, efisien, dan mudah diakses. Transisi dari layanan fisik seperti kantor cabang, ATM, dan contact center menuju online banking dan aplikasi seluler merupakan perubahan yang sangat besar. Teknologi telah memudahkan masyarakat untuk melakukan transaksi online tanpa harus meninggalkan rumah, suatu kemudahan yang sangat dihargai oleh generasi muda yang akrab dengan teknologi dan menghargai kenyamanan.
Penurunan Jumlah Kantor Bank dan Mesin ATM
Nailul menambahkan, “Terlihat jelas bahwa jumlah kantor bank secara umum mengalami penurunan yang cukup tajam, begitu pula dengan jumlah mesin ATM, dalam rentang waktu dari tahun 2018 hingga 2025.” Data ini secara empiris mendukung argumen bahwa layanan digital telah menggantikan peran layanan fisik dalam memenuhi kebutuhan perbankan masyarakat. Selain itu, pertumbuhan akun elektronik (e-money) juga menunjukkan tren yang lebih kuat dibandingkan dengan pertumbuhan kartu kredit dan kartu debit. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat semakin beralih ke metode pembayaran digital.
➡️ Baca Juga: Pahami Beda Zakat Fitrah dan Zakat Mal, Hindari Kesalahan dalam Berzakat
➡️ Baca Juga: Bulan Ramadan: Momentum Irfan Hakim untuk Menenangkan Hati



