Ribuan Perempuan AS Bersatu Dukung Korban Dugaan Pemerkosaan Berkelompok di Cornell

Pada Sabtu, 3 Oktober, ribuan perempuan di Amerika Serikat bersatu melalui platform media sosial untuk menunjukkan dukungan kepada seorang perempuan yang diduga menjadi korban pemerkosaan berkelompok di salah satu universitas ternama. Kasus ini memicu kemarahan publik setelah seorang komentator politik mengancam akan mengungkap identitas korban yang seharusnya dilindungi.
Dukungan Meluas di Media Sosial
Pesan-pesan dukungan dengan menggunakan tagar #IAmJaneDoe—sebuah istilah yang sering dipakai dalam sistem hukum AS untuk menjaga kerahasiaan identitas individu—mulai ramai di TikTok, X, dan Instagram. Semua ini dipicu oleh seruan seorang pria bernama Michael Tracey yang meminta bantuan publik untuk menemukan mantan mahasiswi Cornell University guna “menilai kebenaran” dari tuduhan tersebut.
Sebagai bentuk solidaritas, banyak perempuan mengunggah video dan tulisan yang menyatakan diri mereka mewakili korban. Inisiatif ini bertujuan untuk menghalangi upaya identifikasi korban dan mendukung haknya untuk tetap anonim dalam menghadapi situasi yang sangat sensitif ini.
Manifestasi Dukungan di Media Sosial
“Dia berusaha untuk mengungkap identitasnya, dan kami tidak akan membiarkannya,” ungkap seorang perempuan muda dalam sebuah video di TikTok yang telah ditonton lebih dari 4 juta kali. “Saya adalah Jane Doe,” tambahnya, menegaskan komitmennya untuk melindungi korban.
Rincian Kasus yang Memicu Kontroversi
Dalam gugatannya, perempuan tersebut mengklaim bahwa pada tahun 2024, saat berusia 20 tahun, ia diberi obat ketamin, diserang, dan diperkosa oleh tujuh anggota perkumpulan mahasiswa laki-laki Chi Phi. Tuduhan ini menjadi fokus perhatian, mengingat keparahan kasus yang melibatkan banyak pelaku.
Awalnya, pihak berwenang menolak untuk mengajukan tuntutan, tetapi situasi berubah ketika penyelidikan kembali dibuka pada hari Senin. Gubernur New York, Kathy Hochul, kemudian menunjuk jaksa tertinggi negara bagian untuk menangani kasus ini hingga tuntas.
Kemarahan Publik yang Meluas
Kemarahan dari masyarakat tidak hanya terfokus pada kasus di Cornell, tetapi juga memicu perdebatan yang lebih luas mengenai isu kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi di AS. Hal ini mencakup diskusi tentang budaya perkumpulan mahasiswa dan kondisi yang memungkinkan terjadinya kekerasan, serta tanggapan institusi yang sering kali dianggap tidak memadai.
Perbandingan dengan Gerakan #MeToo
Banyak media di AS yang membandingkan gelombang dukungan daring ini dengan gerakan #MeToo yang terjadi pada tahun 2017. Saat itu, jutaan perempuan menggunakan media sosial untuk berbagi pengalaman mereka mengenai kekerasan dan pelecehan seksual setelah terungkapnya kasus yang melibatkan produser Hollywood, Harvey Weinstein.
Kontroversi yang Dipicu oleh Michael Tracey
Pada awal pekan ini, Michael Tracey, yang memiliki hampir 350 ribu pengikut di X, mengunggah sebuah video yang telah ditonton hampir 7 juta kali. Dalam video tersebut, ia mendorong pengikutnya untuk mengungkap identitas korban.
“Mari kita lihat apakah ada yang memiliki “keberanian” untuk menyebutkan nama Jane Doe ini sehingga kita semua bisa mengevaluasi kebenarannya, serta kebenaran pengacara yang mendampingi, mengingat gugatannya tidak ragu untuk menyebut dan memfitnah tujuh rekannya sebagai pelaku pemerkosaan,” tulisnya dalam sebuah postingan.
Dia juga menambahkan, “Jika Anda kebetulan tahu siapa ‘Jane Doe’ dari Cornell ini, hubungi saya dan saya akan senang untuk mempublikasikan namanya dan informasi identitasnya.”
Tindakan yang Diambil Terhadap Perkumpulan Mahasiswa
Setelah munculnya dugaan pemerkosaan tersebut, pihak Cornell University memutuskan untuk menutup perkumpulan mahasiswa tersebut dan menangguhkan beberapa mahasiswa yang diduga terlibat. Beberapa dari mereka kemudian dikeluarkan dari universitas, menunjukkan respons cepat institusi terhadap situasi yang mengancam reputasi dan keamanan kampus.
Keputusan Pihak Berwenang
Pihak berwenang setempat sebelumnya mengatakan bahwa mereka tidak akan melanjutkan penuntutan pada tahun 2024 karena kesaksian dari pelapor tidak cukup untuk menunjukkan bahwa tidak ada persetujuan dalam hubungan seksual tersebut. Keputusan ini memicu lebih banyak kemarahan dan kritik dari publik yang meminta keadilan bagi korban.
Statistik Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi
Di dalam konteks yang lebih luas, sebuah studi yang dilakukan oleh Association of American Universities pada tahun 2020 mengungkapkan bahwa satu dari empat mahasiswi sarjana di Amerika Serikat melaporkan pernah mengalami kontak seksual secara paksa atau situasi di mana mereka tidak dapat memberikan persetujuan. Ini menunjukkan betapa seriusnya masalah kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi.
- 1 dari 4 mahasiswi melaporkan pengalaman kekerasan seksual.
- Kekerasan seksual sering kali tidak dilaporkan karena stigma yang melekat.
- Institusi sering kali dianggap tidak responsif terhadap keluhan korban.
- Budaya kampus dan perkumpulan mahasiswa dapat berkontribusi pada masalah ini.
- Gerakan sosial seperti #MeToo membantu memberikan suara kepada korban.
Melihat dukungan yang luas bagi korban dugaan pemerkosaan berkelompok di Cornell, jelas bahwa masyarakat semakin peduli dan berkomitmen untuk menuntut perubahan. Kasus ini bukan hanya menjadi sorotan lokal, tetapi juga mencerminkan tantangan yang lebih besar yang dihadapi oleh perempuan di seluruh dunia ketika berhadapan dengan kekerasan seksual dan ketidakadilan.
➡️ Baca Juga: Peluang Penguatan Terbatas pada 13 Agustus 2026, Siapkan Strategi Terbaik Anda
➡️ Baca Juga: JYP Umumkan Gunil Keluar dari Xdinary Heroes Secara Resmi dan Terbuka




