kpkgg
Nasional

Keluarga Rita-Ratno Berperan Aktif dalam Upaya Memadamkan Karhutla di Kuala Dua

Di tengah kabut asap dan kobaran api, Rita Yuni menolak untuk hanya berdiam diri di rumah. Sebagai seorang perempuan berusia 46 tahun, ia memilih untuk terjun langsung dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan tempat tinggalnya, Kuala Dua. “Rasanya lebih seru di lapangan dibandingkan di dapur,” ungkapnya. Rita adalah anggota dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Kuala Dua yang berada di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Menariknya, dia tidak sendirian; suaminya, Ratno Timur, bekerja di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubu Raya, dan putra mereka, Kenzie, yang berusia 15 tahun, juga terlibat dalam organisasi tersebut. Keluarga ini secara rutin berkolaborasi untuk memadamkan api yang mengancam wilayah sekitar rumah mereka.

Peran Aktif Keluarga dalam Memadamkan Karhutla

Dalam upaya penanganan karhutla, Rita melakukan berbagai tugas di lapangan. “Saya melakukan banyak hal, mulai dari mengoperasikan mesin air hingga menyirami area yang terbakar,” jelasnya. Keterlibatannya dalam pemadaman kebakaran bukanlah hal baru; ia telah mengikuti suaminya dalam berbagai operasi pemadaman sejak Ratno bergabung dengan BPBD Kubu Raya. Dengan resmi menjadi anggota MPA Kuala Dua pada tahun ini, partisipasi Rita semakin intensif. Namun, di balik itu semua, terdapat risiko yang harus dihadapi. Suatu ketika, saat api menjalar lebih besar, ia dan keluarganya berada di lokasi kebakaran ketika api mencapai ketinggian 3 hingga 4 meter. Dalam usaha memadamkan api, Rita terperosok ke dalam parit gambut yang amblas. “Pakaian saya jadi kotor, dan anggota lainnya sudah kewalahan,” kenangnya.

Pendidikan dan Pengalaman yang Dibagikan

Ratno Timur, suami Rita, telah memiliki pengalaman dalam penanganan bencana selama bertahun-tahun. Sebelum bergabung dengan BPBD Kubu Raya pada tahun 2017, ia bekerja sebagai sopir untuk pimpinan bupati selama sekitar 13 tahun. Setelah kembali ke kampung halamannya di Malang, Ratno menjalani pelatihan khusus dalam menangani kebakaran. Sejak saat itu, ia kerap terlibat langsung di lapangan. “Di musim kemarau, kita berhadapan dengan api; di musim hujan, kita berhadapan dengan air. Dan jika terjadi banjir, kita juga turun,” terang Ratno. Ia kemudian membagikan pengetahuan tersebut kepada keluarganya.

Saat ditanya mengenai keprihatinannya terhadap keselamatan istri dan anaknya yang terlibat dalam kegiatan berisiko, Ratno menjawab, “Yang penting adalah mereka dibekali ilmu. Saya sudah mengajarkan mereka dan mereka sudah terbiasa.” Kenzie, putra mereka, juga ikut serta dengan membawa selang dan menyiramkan air pada area yang terbakar. Selain itu, Kenzie juga mengikuti latihan pencak silat, yang tentunya menambah kemampuannya dalam situasi darurat.

Keahlian dan Hobi yang Membantu Akses di Lapangan

Hobi memancing yang dimiliki Rita dan Ratno ternyata memberikan keuntungan tambahan dalam aktivitas mereka saat penanganan kebakaran. Dengan pengetahuan mengenai berbagai jalur kecil yang biasa mereka lewati untuk mencari spot memancing, keduanya mampu menemukan akses alternatif menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau oleh kendaraan. Ratno mengatakan, “Karena kami sudah hafal jalan-jalan tikus, saat ada kebakaran, kami bisa cepat sampai ke lokasi.” Ini merupakan salah satu contoh bagaimana hobi bisa berkontribusi dalam situasi yang mendesak.

Ancaman Lain di Balik Karhutla

Namun, karhutla di lahan gambut tidak hanya menyimpan tantangan dari api, tetapi juga ancaman dari satwa liar. Rita pernah mengalami situasi menegangkan saat berjaga sendirian di malam hari dan mendengar suara benda jatuh yang diikuti raungan. Ia menduga bahwa suara tersebut berasal dari beruang. “Saya langsung berlari mencari tempat aman,” ujarnya. Ratno menambahkan bahwa selain beruang, ada juga ular kobra dan tawon vespa yang harus diwaspadai. “Ular bisa dihindari dengan sepatu bot tinggi, tetapi tawon vespa berbahaya karena sarangnya bisa jadi di semak-semak dan mereka dapat mengikuti kita,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa medan karhutla memiliki banyak risiko yang harus dihadapi oleh para petugas pemadam.

Menanggapi Kritikan dan Tantangan

Meski sering mendapatkan kritik dari masyarakat terkait keterlambatan dalam menangani kebakaran, Ratno tetap berkomitmen untuk menjalankan tugasnya. “Kami kerap dicemooh, dianggap terlambat dalam merespons kebakaran. Namun, laporan titik api tidak selalu datang bersamaan dan kami memiliki keterbatasan dalam jumlah personel dan perangkat pemadam,” katanya. Ia menjelaskan bahwa setiap laporan tetap perlu diperiksa dan prioritas ditentukan berdasarkan kedekatan api dengan permukiman. “Kalau api dekat rumah, kami pasti segera menanganinya,” tambahnya.

Proses penanganan kebakaran melibatkan pertimbangan jarak lokasi, kondisi api, posisi mesin dan selang, serta jumlah personel yang tersedia. Semua ini menjadi faktor penting dalam menentukan langkah-langkah yang akan diambil.

Semangat yang Tidak Padam

Meskipun ada kritik dari lingkungan sekitar, tidak ada yang dapat menghentikan Rita untuk terus aktif di lapangan. “Tetangga dan ibu-ibu lain sering mengomentari keputusan saya. Namun, di dalam hati saya mengetahui bahwa semangat kami berbeda,” ungkap Rita. Ia percaya bahwa tidak semua orang memiliki dorongan yang sama untuk membantu dalam situasi kebakaran. “Saya tidak memaksa anak perempuan saya untuk ikut. Jika seseorang tidak memiliki rasa kemanusiaan, mereka akan bertanya, ‘Mengapa ikut? Apa tidak capek? Dan tidak dibayar pula?’ Namun, jiwa kita memang berbeda,” tambahnya.

Bagi Rita, kecintaannya terhadap aktivitas di lapangan bukan hanya berasal dari rasa kemanusiaan, tetapi juga dari jiwa petualang yang ia miliki bersama Ratno. “Kami selalu suka berpetualang. Dari dulu, kami sering mengeksplorasi tempat-tempat baru,” jelasnya. Kebiasaan ini membantu mereka mengenali jalur-jalur kecil di sekitar Kuala Dua, termasuk akses menuju lokasi yang sulit dijangkau ketika terjadi kebakaran.

Keluarga yang Berani Beraksi di Garis Depan

Rita mulai aktif dalam memadamkan kebakaran sejak Januari 2026. Ketika musim karhutla memuncak pada bulan Juli, keterlibatannya semakin meningkat, dan ia resmi menjadi anggota MPA Kuala Dua. Kisah keluarga Rita dan Ratno berlangsung di tengah ancaman karhutla yang terus mengintai di Kubu Raya, yang merupakan salah satu daerah dengan jumlah titik panas terbanyak di Kalimantan Barat. Menurut data BMKG hingga 31 Agustus 2026, Kubu Raya mencatat 42 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, menjadikannya sebagai daerah kedua terbanyak setelah Kabupaten Ketapang.

Dalam konteks ini, peran serta masyarakat sekitar sangat penting dalam upaya penanganan karhutla. Bagi Rita, terjun ke lapangan bukan hanya sekedar memadamkan api, tetapi juga merupakan panggilan kemanusiaan dan hasrat petualangan yang membuatnya tetap bergerak meski dalam kondisi yang berbahaya. Ketika orang lain mempertanyakan pilihannya, Rita selalu memiliki jawaban yang sederhana, “Jiwa kita memang berbeda.”

➡️ Baca Juga: Clash of Legends 2026: Cek Jadwal Tayang TV Reuni Rivaldo dan Ismed Sofyan

➡️ Baca Juga: Telkom Luncurkan Feeding Spot Bekantan dan Tanam 1.000 Pohon Mangrove di Tarakan

Related Articles

Back to top button