kpkgg
Daerah

Kekeringan Menghambat Kegiatan Sekolah, Kulon Progo Utamakan Penyediaan Air Bersih

Krisis kekeringan yang melanda Kabupaten Kulon Progo telah menimbulkan dampak signifikan terhadap kegiatan belajar di sekolah-sekolah, terutama dalam hal penyediaan air bersih. Seperti yang terlihat di SD Negeri Jatiroto, Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, para siswa terpaksa membawa air dari rumah karena pasokan air yang tidak memadai. Permasalahan ini semakin meresahkan mengingat kebutuhan sanitasi di sekolah sangatlah penting untuk mendukung proses belajar yang sehat dan nyaman.

Penyediaan Air Bersih sebagai Respons Terhadap Krisis

Menanggapi laporan yang diterima dari pihak kapanewon, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), segera mengambil langkah proaktif. Pada Jumat (9/10/2026), bantuan air bersih disalurkan ke SD Negeri Jatiroto untuk memenuhi kebutuhan siswa.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, turut hadir untuk meninjau langsung proses penyaluran bantuan tersebut. Ia mengungkapkan keprihatinannya ketika mengetahui bahwa siswa harus membawa air dari rumah untuk memenuhi kebutuhan kebersihan mereka di sekolah, seperti mandi, berwudu, dan mencuci tangan.

Langkah-Langkah Penanganan Kekeringan

“Kami berada di SD Negeri Jatiroto untuk melakukan dropping air bersih sebagai respons terhadap laporan warga di Girimulyo. Anak-anak di sini setiap hari harus membawa satu liter botol air dari rumah untuk keperluan mereka sendiri. Kami berharap kekeringan ini tidak mengganggu kebutuhan anak-anak sekolah, sehingga penyaluran air bersih untuk sekolah-sekolah ini menjadi prioritas,” ujar Agung saat berada di lokasi penyaluran.

Agung menjelaskan bahwa dana untuk bantuan ini bersumber dari zakat, infak, dan sedekah yang diberikan oleh aparatur sipil negara (ASN) serta pamong se-Kabupaten Kulon Progo, yang dikelola oleh Baznas. Penyaluran air bersih diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar di sekolah selama periode kekeringan ini.

Mengingat bahwa musim kemarau diperkirakan akan berlangsung cukup lama, Agung juga mengajak masyarakat yang memiliki sumber air yang memadai untuk berpartisipasi dalam membantu warga yang terkena dampak kekeringan.

Partisipasi Masyarakat dalam Mengatasi Krisis Air

“Kami memberikan kesempatan kepada mereka yang tidak kekurangan air untuk berkontribusi melalui Infak Jumat Berkah dengan menyalurkan air bersih. Biaya operasional untuk satu tangki air berkisar antara Rp450 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung pada lokasi. Mari kita berdoa agar cuaca segera bersahabat dan hujan turun untuk membantu masyarakat,” tambahnya.

Kepala SD Negeri Jatiroto, Rina Yulianti, menyatakan bahwa masalah keterbatasan air di sekolahnya telah dirasakan sejak awal bulan September. Penurunan debit pasokan air dari PAM Padukuhan Wonosari, yang biasanya memenuhi kebutuhan sekolah dan warga sekitar, menjadi penyebab utama masalah ini.

Upaya Mandiri Sekolah dan Wali Murid

Sebelum menerima bantuan dari pemerintah daerah dan Baznas, pihak sekolah bersama wali murid berupaya memenuhi kebutuhan air secara mandiri. Mereka melakukan pengambilan air dari daerah lain menggunakan mobil dan tandon. Sekolah juga pernah mendapatkan bantuan air dari salah satu fraksi partai politik.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Di sekolah kami terdapat penampungan air dengan kapasitas 5.000 liter dan 2.000 liter. Kapasitas tersebut biasanya cukup untuk kebutuhan kamar mandi selama dua minggu. Kami berharap penyaluran air ini dapat berlanjut selama kondisi kekeringan masih ada,” ungkap Rina.

Program Ambarawa: Inisiatif dalam Krisis Kekeringan

Untuk mengurangi dampak dari kekurangan air, SD Negeri Jatiroto juga menerapkan Program Ambarawa, yang merupakan singkatan dari Aksi Mandiri Bawa Air. Dalam program ini, siswa diminta untuk membawa satu botol air mineral dari rumah yang akan digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, termasuk saat mengikuti kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Program Ambarawa ini lahir dari kondisi kekeringan yang kami hadapi sejak awal September. Anak-anak diminta membawa satu botol air mineral dari rumah khusus untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, termasuk saat kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi anak-anak untuk berhemat air di tengah keterbatasan, baik di sekolah maupun di rumah,” pungkas Rina.

Dampak Kekeringan Terhadap Lingkungan Pendidikan

Keterbatasan air di SD Negeri Jatiroto menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar di lingkungan pendidikan. Keberlanjutan bantuan air bersih menjadi sangat penting agar kegiatan belajar, kebersihan, dan kesehatan siswa tetap terjaga selama masa kekeringan.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, diharapkan masalah kekeringan kulon progo dapat diatasi sehingga anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan mereka dengan baik. Melalui kolaborasi dan kesadaran bersama, kita dapat mengatasi tantangan ini dengan lebih efektif dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang.

➡️ Baca Juga: Aturan Pajak Kendaraan Listrik 2026: Gubernur Tentukan Nasib Insentif dan Kebijakan

➡️ Baca Juga: Lahan SDN 2 Kertamulya Dipermasalahkan, Disdik KBB Jamin Proses KBM Berjalan Normal

Related Articles

Back to top button