Dampak positif program penghentian perdagangan daging anjing di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai terlihat, tanda-tanda penurunan penyebaran rabies di wilayah ini pun mulai terasa. Dua pemilik usaha daging anjing di Kota Kupang, terdiri dari pemilik rumah potong dan pemilik rumah makan, telah resmi menutup usaha mereka setelah lebih dari empat puluh tahun berjalan. Inisiatif ini merupakan bagian dari program “Model for Change – Alih Usaha untuk Kebaikan”, yaitu sebuah kerjasama antara Humane World for Animals (HWA), Jakarta Animal Aid Network (JAAN Domestic), dan Pemerintah Provinsi NTT. Program ini memfokuskan pada pendampingan usaha, pelatihan, dan perubahan perilaku positif bagi individu yang ingin meninggalkan praktik perdagangan daging anjing dan beralih ke usaha yang lebih etis dan berkelanjutan.
Perubahan Positif dalam Praktik Perdagangan Daging Anjing
Sebanyak sepuluh ekor anjing yang ditemukan masih hidup di rumah potong tersebut berhasil diselamatkan oleh tim HWA dan JAAN. Anjing-anjing tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Hewan UPTD Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT untuk mendapatkan vaksinasi dan perawatan medis. Setelah masa karantina dan observasi, anjing-anjing ini akan diterbangkan ke Shelter Hewan milik JAAN di Jawa Barat untuk pemulihan lanjutan sebelum akhirnya siap diadopsi.
Perjuangan NTT dalam Mengatasi Rabies
NTT merupakan salah satu provinsi dengan tingkat perdagangan daging anjing tertinggi di Indonesia. Pada tahun 2025, NTT mencatat sebanyak 78 kasus rabies pada manusia, menjadikan provinsi ini salah satu provinsi dengan angka tertinggi di Indonesia. Namun, Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk menjadikan NTT bebas rabies pada tahun 2030, dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesejahteraan hewan.
Pentingnya Alih Usaha untuk Kebaikan
Program “Model for Change – Alih Usaha untuk Kebaikan” menjadi langkah nyata dalam upaya perlindungan hewan dan kesehatan masyarakat. Mantan pemilik rumah potong daging anjing berinisial B kini beralih membuka warung untuk menggantikan usaha lamanya. Sedangkan, mantan pemilik rumah makan daging anjing berinisial A kini beralih mengembangkan usaha bahan bangunan. Mereka merasa lega bisa meninggalkan praktik lama yang berisiko tinggi dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Fokus pada Kesehatan Masyarakat
Dr. Melky Angsar, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan NTT, menegaskan perdagangan daging anjing merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena berpotensi memperluas penyebaran rabies. Program seperti “Alih Usaha untuk Kebaikan” memberikan solusi nyata dengan membantu masyarakat beralih ke mata pencaharian yang lebih aman dan berkelanjutan.
Momentum Pembatasan Perdagangan Daging Anjing
Program “Model for Change – Alih Usaha untuk Kebaikan” di NTT diluncurkan di tengah meningkatnya momentum nasional untuk mengakhiri perdagangan daging anjing dan kucing. Hingga saat ini, sudah 116 provinsi, kota, dan kabupaten di Indonesia yang telah memberlakukan regulasi pelarangan atau pembatasan perdagangan tersebut. Selain itu, Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan dan Perlindungan Hewan yang mencakup larangan nasional terhadap perdagangan daging anjing dan kucing telah masuk dalam agenda prioritas legislatif DPR RI tahun 2026.
- Mantan pemilik usaha daging anjing merasa lega dan berkontribusi positif bagi lingkungan dengan usaha baru yang lebih aman dan bermanfaat.
- Perdagangan daging anjing merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena berpotensi memperluas penyebaran rabies.
- Sudah 116 provinsi, kota, dan kabupaten di Indonesia yang telah memberlakukan regulasi pelarangan atau pembatasan perdagangan daging anjing dan kucing.
- Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan dan Perlindungan Hewan yang mencakup larangan nasional terhadap perdagangan daging anjing dan kucing telah masuk dalam agenda prioritas legislatif DPR RI tahun 2026.
Karin Franken, Pendiri dan CEO JAAN Domestic, menambahkan bahwa penutupan usaha ini menunjukkan bahwa masyarakat bersedia meninggalkan praktik perdagangan daging anjing dengan pendampingan dan edukasi yang tepat. Program ini tidak hanya menyelamatkan hewan, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kesehatan masyarakat. Davina Veronica, Pendiri dan CEO Natha Satwa Nusantara dan pendukung kampanye, mengatakan perdagangan daging anjing mengancam kesejahteraan hewan dan manusia. Program ini membantu keduanya sekaligus, menciptakan masa depan yang lebih aman, sehat, dan penuh kasih.
➡️ Baca Juga: Mulai Tayang! Ini Durasi Episode One Piece Live Action S2
➡️ Baca Juga: Luhut Soroti Konflik Global, Negara Maju Disebut Dalang Banyak Perang
