Gubernur BI Destry Damayanti Paparkan Strategi Baru Menghadapi Gelombang Ekonomi Global

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menekankan bahwa dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin rumit, bank sentral harus mengimplementasikan pendekatan yang lebih komprehensif daripada hanya mengandalkan kebijakan moneter atau BI-Rate. Dalam sebuah diskusi yang diadakan pada hari Kamis (3/9), ia mengungkapkan pentingnya diversifikasi strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Tantangan Ekonomi Global yang Kian Kompleks

Destry mengemukakan bahwa meskipun terdapat peluang pertumbuhan ekonomi yang masih terbuka lebar, mengandalkan kebijakan moneter saja tidak akan cukup. “Ruang untuk pertumbuhan ekonomi masih ada, tetapi kita tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter karena saat ini kita menghadapi kondisi global yang disebut ‘higher for longer’,” ujarnya dalam acara Saresehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta.

Menurutnya, negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat saat ini sedang berjuang melawan inflasi yang tinggi. Hal ini membuat kemungkinan untuk melakukan penurunan suku bunga menjadi semakin kecil. Di sisi lain, imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun telah meningkat, mencapai kisaran 4,5-4,6 persen, jauh di atas level normal yang biasanya berada di sekitar 3 persen.

Dampak Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga

Indeks kekuatan mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju lainnya juga menunjukkan peningkatan. Meskipun pertumbuhan ekonomi AS mengalami pelambatan, tantangan yang dihadapi semakin kompleks. “Ketika inflasi meningkat, AS harus mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga. Namun, keputusan ini tidak mudah karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi,” tambah Destry.

Dalam konteks ini, Destry menekankan bahwa penggunaan instrumen suku bunga atau BI-Rate saja tidak akan cukup untuk mengatasi tantangan yang ada. Indonesia, yang masih memerlukan arus masuk investasi asing, harus memastikan bahwa aset rupiah tetap menarik bagi para investor, terutama di tengah kenaikan suku bunga global.

Potensi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Destry menyoroti bahwa meskipun ada tantangan, ekonomi Indonesia masih berpotensi tumbuh lebih tinggi. “BI tidak dapat hanya mengandalkan BI-Rate di tengah situasi global yang terus berubah,” jelasnya. Oleh karena itu, diperlukan kombinasi kebijakan yang lebih luas.

“Langkah yang kita ambil meliputi kebijakan makroprudensial yang lebih optimal,” imbuhnya. Saat ini, Bank Indonesia tengah berfokus pada pengoptimalan kebijakan tersebut untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Strategi Kebijakan Makroprudensial

Destry menjelaskan bahwa giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank umum konvensional sebenarnya efektif berada di level 9 persen. Namun, untuk mendorong likuiditas, bank sentral telah memberikan insentif yang mengakibatkan penurunan GWM. Ini bertujuan agar kelebihan likuiditas tersebut dapat disalurkan ke sektor-sektor prioritas dalam perekonomian.

Permasalahan Likuiditas di Sektor Perbankan

Di sisi lain, Gubernur BI menyadari bahwa meskipun rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) industri perbankan masih tergolong baik, terdapat tantangan dalam distribusi likuiditas. “Kita perlu memastikan bahwa likuiditas tidak hanya terpusat di beberapa bank saja,” katanya.

Analisis granular yang dilakukan oleh BI menunjukkan bahwa banyak bank masih menempatkan likuiditas mereka dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tujuan investasi. Ini menunjukkan perlunya upaya untuk mendistribusikan likuiditas secara lebih merata di seluruh sektor.

Langkah-Langkah Strategis untuk Meningkatkan Investasi

Dalam upaya untuk meningkatkan daya tarik investasi, beberapa langkah strategis perlu diambil, antara lain:

Menghadapi Ketidakpastian Global

Destry juga mencatat bahwa ketidakpastian ekonomi global memerlukan respons yang cepat dan tepat. “Kita harus siap menghadapi perubahan kondisi pasar dan kebijakan luar negeri yang bisa mempengaruhi perekonomian kita,” katanya. Oleh karena itu, BI perlu beradaptasi dan merespons dengan cepat terhadap dinamika yang ada.

Dalam konteks ini, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha dan pemerintah, menjadi sangat penting. “Kita harus bekerja sama untuk menciptakan solusi yang efektif dalam menghadapi tantangan yang ada,” imbuhnya.

Pentingnya Inovasi dalam Kebijakan Ekonomi

Destry menekankan bahwa inovasi dalam kebijakan ekonomi adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pendekatan yang berorientasi pada hasil dan adaptif terhadap perubahan, Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang ada meskipun dalam situasi yang sulit.

Melalui kombinasi kebijakan yang cermat dan strategi yang tepat, Gubernur BI percaya bahwa Indonesia dapat menghadapi tantangan global dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. “Kita memiliki potensi yang besar, dan dengan strategi yang tepat, kita bisa mencapainya,” tutupnya.

➡️ Baca Juga: Apakah Rutin Mengonsumsi Telur Menyebabkan Bisul? Temukan Faktanya di Sini

➡️ Baca Juga: Kode Redeem ML 3 September 2026: Klaim Hadiah Gratis Sebelum Kuota Habis

Exit mobile version