Seiring dengan situasi geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah, pasar keuangan global menjadi sangat sensitif. Kondisi ini membatasi ruang bagi mata uang rupiah untuk menguat, karena sentimen eksternal dapat dengan cepat mempengaruhi aliran modal dan nilai tukar. Dengan dominasi sentimen geopolitik ini, potensi penguatan rupiah tampaknya akan tetap terbatas.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah
Menurut Lukman Leong, seorang analis pasar uang Doo Financial Futures, pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Pada umumnya, konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat dan Israel, menjadi faktor utama yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, Lukman memprediksi bahwa kurs rupiah terhadap dolar AS, pada perdagangan Rabu (11/3), akan berfluktuasi di kisaran 16.800 – 16.950 rupiah per dolar AS, dengan kecenderungan melemah.
Reaksi Pasar Terhadap Konflik Geopolitik
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (10/3), mengalami penguatan sebesar 86 poin atau 0,51 persen dari hari sebelumnya menjadi 16.863 rupiah per dolar AS. Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), menyatakan bahwa penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, bahwa konflik dengan Iran segera menuju penyelesaian.
Pernyataan Trump ini berhasil meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap potensi konflik yang berkepanjangan. Konflik ini sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi global dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Perkembangan Terkini Konflik AS-Iran
Mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran, yang hingga saat ini masih berlangsung, diperkirakan akan segera berakhir. Namun, ia menolak klaim bahwa konflik akan berakhir dalam pekan ini. Pernyataan Trump muncul setelah Iran memilih Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru mereka, menggantikan Ayatullah Ali Khamenei yang gugur dalam serangan gabungan AS-Israel.
Mojtaba Khamenei dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Naiknya Mojtaba ke tampuk kekuasaan menimbulkan kekhawatiran di sebagian besar negara bahwa perang, yang memasuki pekan kedua, dapat semakin mengguncang kawasan Timur Tengah dan berdampak langsung pada ekonomi global.
Respon Trump terhadap Pemimpin Baru Iran
Walaupun mengklaim bahwa AS telah mencapai keberhasilan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, Trump menyatakan kekecewaannya terhadap terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran. “Kami pikir ini hanya akan menimbulkan masalah yang sama untuk negara ini,” katanya.
Indeks Dolar AS dan Pengaruhnya terhadap Rupiah
Menurut Amru, koreksi pada indeks dolar AS memberikan ruang bagi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil dan cenderung menguat. Pasar juga sedang mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, khususnya setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan kondisi yang masih relatif kuat. Jika inflasi dan pasar tenaga kerja AS tetap solid, lanjutnya, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan meningkat dan berpotensi memperkuat dolar AS.
➡️ Baca Juga: Sekdaprov Marindo Kurniawan Melakukan Pembukaan Resmi Siaran Piala Dunia 2026
➡️ Baca Juga: Menko Polkam Djamari Chaniago: Tanggapan Tegas Terhadap Penobatan Datuk Jenderal Terlibat Narkoba